Episode 1 – Suara Pagi

Ayam yang Ingin Menjadi Anjing

Di Desa Satura, pagi selalu datang dengan suara yang sama.

“Kukuruyuuuk!”

Suara itu meluncur dari halaman rumah Pak Darma, menyusuri kebun singkong, melewati kandang kambing, lalu masuk ke sela-sela jendela rumah warga yang masih tertutup.

Satu per satu lampu rumah menyala.

Ada yang mulai menyapu halaman. Ada yang menanak nasi. Ada pula yang mengangkat ember untuk pergi ke sumur.

Di kandang-kandang kecil, kambing mulai berdiri. Burung-burung beterbangan dari ranting. Bahkan sapi milik Pak Karta mulai mengunyah rumput sambil memandangi matahari yang perlahan muncul dari balik bukit.

Di tengah semua itu, Jago berdiri di atas pagar bambu dengan dada membusung.

Ia adalah ayam jantan milik Pak Darma.

“Kukuruyuuuk!”

Jago berkokok sekali lagi.

Lalu ia menoleh ke arah kandang di bawah pohon mangga.

Di sana ada Barka, seekor anjing berbulu cokelat yang sedang berbaring dengan rantai terikat pada lehernya.

Jago tersenyum puas.

“Lihat itu, Barka!”

Barka membuka sebelah matanya.

“Apa?”

“Semua orang bangun karena aku.”

Barka menguap.

“Iya.”

“Bukan cuma bangun,” lanjut Jago. “Mereka bangun dengan segar.”

Barka kembali menutup matanya.

Jago merasa jawabannya kurang memuaskan.

Ia melompat turun dari pagar dan mendekati kandang.

“Coba pikir,” katanya. “Kalau aku bersuara, orang-orang senang. Kalau kamu bersuara…”

Jago berhenti sebentar.

“Guk! Guk! Guk!”

Ia menirukan suara anjing dengan buruk.

“…orang malah takut.”

Barka membuka matanya lagi.

“Terus?”

“Itulah bedanya kita,” kata Jago sambil membusungkan dada. “Tidak ada manusia yang takut pada ayam.”

Barka melihat rantai di lehernya.

Jago ikut melihatnya.

“Nah, lihat saja. Aku bebas keliling halaman. Kamu malah diikat.”

Barka mendengus.

“Memangnya kamu mau diikat?”

“Tentu tidak.”

“Kalau begitu jangan banyak bicara.”

Jago tertawa.

Namun pagi itu, entah kenapa, perkataan Jago membuat Barka berpikir.

Ia memang sudah bosan berada di kandang.

Setiap hari ia melihat Jago berjalan bebas ke mana-mana. Ke kebun. Ke dapur. Ke halaman tetangga. Bahkan sesekali sampai ke pinggir sawah.

Sementara dirinya harus berada di bawah pohon mangga.

“Kalau begitu,” kata Barka tiba-tiba, “bagaimana kalau besok kita bertukar pekerjaan?”

Jago terdiam.

“Bertukar?”

“Kamu jadi penjaga rumah. Aku yang membangunkan orang.”

Jago menahan tawa.

“Kamu?”

“Iya.”

Jago memandangi Barka beberapa saat.

Lalu senyumnya melebar.

“Baiklah.”


Keesokan paginya, Desa Satura masih gelap.

Barka sudah berdiri di depan kandangnya.

Ia menarik napas panjang.

Kemudian—

“GUK! GUK! GUK! GUK! GUK!”

Suara Barka mengguncang halaman.

Beberapa burung langsung beterbangan dari pohon.

Barka semakin semangat.

“GUK! GUK! GUK!”

Lampu rumah Pak Darma tiba-tiba menyala.

“Ada apa?!”

Pintu rumah terbuka.

Pak Darma keluar membawa sapu.

Tetangganya ikut membuka jendela.

“Maling?”

“Barka menggonggong!”

“Ada orang masuk?”

Seorang bapak berlari keluar sambil membawa senter.

Ibu-ibu memanggil anak-anaknya masuk ke rumah.

Bahkan Pak Karta datang membawa sebatang kayu.

Dalam beberapa menit, halaman rumah Pak Darma dipenuhi orang.

Semua melihat ke kanan dan ke kiri.

Tidak ada maling.

Tidak ada binatang liar.

Tidak ada apa-apa.

Hanya Barka yang berdiri kebingungan.

Dari atas kandang ayam terdengar suara tertahan.

“Hihihi…”

Barka menoleh.

Jago sedang berusaha keras menahan tawa.

Akhirnya ia tidak kuat.

“Hahahaha!”

Barka menatap kesal.

Jago hampir jatuh dari pagar karena tertawa.

“Katanya mau bikin orang bangun segar!”

Barka diam.

“Ini bukan segar,” kata Jago. “Ini panik!”

Barka kembali masuk ke kandangnya.

Jago masih terkekeh.

“Pantas saja kamu diikat.”

Barka tidak menjawab.

Untuk pertama kalinya pagi itu, ia merasa mungkin Jago memang benar.


Beberapa hari kemudian, Pak Darma datang ke kandang Barka membawa tali panjang.

“Ayo, Barka.”

Barka langsung berdiri.

Pak Darma melepas rantainya.

Jago yang sedang mencari cacing segera mendekat.

“Mau ke mana?”

Barka juga tidak tahu.

Ia hanya mengikuti Pak Darma melewati kebun, menyeberangi sungai kecil, lalu masuk ke hutan di pinggir Desa Satura.

Ternyata Pak Darma pergi berburu bersama beberapa warga.

Di dalam hutan, suasana berbeda.

Tidak ada rumah.

Tidak ada anak-anak.

Tidak ada orang yang sedang menanak nasi.

Hanya pepohonan tinggi, semak lebat, dan suara ranting patah.

Pak Darma memberi isyarat kepada Barka.

Barka mengendus tanah.

Ada bau hewan.

Ia berjalan perlahan menuju sebuah semak.

Lalu—

“GUK! GUK! GUK!”

Suara Barka menggema di antara pepohonan.

Tiba-tiba terdengar suara dari balik semak.

Kresek!

Seekor babi hutan berlari keluar.

“Di sana!” teriak salah satu warga.

Para pemburu segera bergerak.

Barka berlari dari satu sisi ke sisi lainnya sambil terus menggonggong.

“GUK! GUK!”

Suara yang beberapa hari lalu membuat warga Desa Satura panik, kini justru menjadi sesuatu yang mereka tunggu.

Gonggongannya membuat hewan-hewan yang bersembunyi bergerak.

Gonggongannya memberi tanda kepada para pemburu.

Gonggongannya membantu Pak Darma mengetahui dari mana hewan-hewan itu akan keluar.

Sore harinya, Barka pulang ke desa dengan langkah ringan.

Rantainya dipasang kembali.

Namun kali ini Barka tidak terlihat kesal.

Jago mendekatinya.

“Bagaimana?”

“Lumayan.”

Jago memperhatikannya.

Pak Darma lewat sambil mengusap kepala Barka.

“Anjing pintar.”

Ekor Barka bergoyang.

Jago terdiam.

Ia mulai mengerti sesuatu.

“Kau tahu, Barka…”

Barka menoleh.

“Sepertinya aku salah.”

Barka memiringkan kepalanya.

Jago menaiki pagar lalu duduk di sana.

“Suaramu memang membuat orang takut.”

Barka mendengus.

“Terima kasih.”

“Tapi ternyata… kadang manusia memang membutuhkan rasa takut.”

Barka memandangnya.

“Kalau ada orang asing masuk, manusia perlu tahu.”

Jago melanjutkan.

“Kalau ada hewan bersembunyi di hutan, mereka perlu dikejutkan.”

Ia melihat langit yang mulai berwarna jingga.

“Kalau aku yang menggantikanmu di hutan tadi, mungkin babi hutannya malah tidak peduli.”

Barka tertawa kecil.

“Mungkin malah mengejarmu.”

Jago membayangkannya sebentar.

Bulu di lehernya langsung berdiri.

“Jangan dibayangkan.”

Keduanya tertawa.

Jago lalu berkata,

“Mungkin bukan soal suara siapa yang paling bagus.”

Barka mengangguk.

“Tapi soal kapan suara itu dibutuhkan.”

Malam pun turun di Desa Satura.

Barka kembali menjaga halaman.

Jago masuk ke kandangnya.

Dan keesokan paginya, ketika langit mulai berubah dari hitam menjadi biru—

“Kukuruyuuuk!”

Orang-orang kembali bangun dengan tenang.

Barka hanya membuka mata sebentar.

Kemudian ia tersenyum.

Karena sekarang mereka berdua tahu:

ada suara yang dibuat untuk membangunkan,

dan ada suara yang dibuat untuk memperingatkan.

Keduanya sama-sama berguna,

selama digunakan pada waktu yang tepat.